Seputar SeputarCerita, tips, dan rekomendasi yang dipersiapkan dengan rapi.
general

Seputar Praktis: Belajar dari Kebiasaan Sehari-hari

Observasi tentang kebiasaan praktis dalam keseharian di Indonesia. Dari antre kopi hingga menyusun prioritas, simak perspektif dari Oelamasi.

27 May 2026 · 3 menit baca · oleh Darmaji Mahendra Anggraini
Seputar Praktis: Belajar dari Kebiasaan Sehari-hari

Dua pekan lalu saya pulang ke Oelamasi setelah sempat beberapa hari di Kupang. Di sebuah warung kopi pinggir jalan, saya melihat pemiliknya menulis daftar pesanan di secarik kertas sobekan buku tulis. Cara itu kuno, tapi efisien: nggak perlu aplikasi, nggak perlu sinyal, langsung selesai dalam lima detik. Sya mulai sadar, banyak hal praktis yang justru lahir dari keterbatasan, bukan dari kecanggihan. Hal-hal kecil macam itu sering luput dari perhatian kita yang terlalu sibuk mencari solusi instan.

Kecil-Kecil Punya Dampak

Salah satu yang paling sering saya temukan di obrolan grup WhatsApp atau forum online adalah kebiasaan menulis catatan tempelan di monitor komputer. Kelihatan kampungan, tapi sya lakukan sendiri sejak 2020. Tiga baris post-it di sudut layar bisa mengingatkan sya membayar pajak kendaraan atau jadwal servis motor. Teman sya di Jakarta malah pakai papan tulis kecil di depan meja kerja. Metodenya sederhana, nggak perlu aplikasi to-do dengan fitur berlapis. Ini bukan soal menolak teknologi, melainkan memilih alat yang paling tidak bikin kita malas melihatnya.

Di kalangan anak muda kota, tren "hidup minimalis" sempat ramai. Yang saya lihat, esensinya bukan pada jumlah barang, tapi pada pilihan untuk tidak mempersulit diri sendiri. Misalnya, menyiapkan baju kerja malam sebelumnya, atau menaruh kunci motor di tempat yang sama setiap pulang. Saya palingg tidak suka istilah "optimasi waktu" karena kedengarannya seperti target proyek korporat. Padahal, praktis itu soal mengurangi gesekan dalam rutinitas. Ketika Anda tidak perlu berpikir ulang di pagi hari, itu sudah kemenangan kecil.

Dari pengamatan di sekitar Oelamasi, banyak tetangga yang membiasakan diri memasak sekaligus untuk dua hari. Bukan karena malas, tapi karena mereka tahu jam pulang kerja sering tak menentu. Cara seperti ini lebih dikenal di sini sebagai "timbun" atau "nyetok". Tidak ada buku motivasi yang mengajar mereka. Kepekaan terhadap ritme hidup sendiri lah yang membentuk kebiasaain itu. Saya rasa hal yang sama berlaku di kota besar: orang yang selalu sibuk justru butuh sistem yang paling sederhana Detail teknisnya saya rapikan di seputar terdekat.

Di media sosial, sering muncul konten tentang "life hacks" yang bertele-tele—butuh alat khusus, tutorial panjang, bahkan aplikasi berbayar. Saya lebih percaya pada hacks yang lahir dari kebutuhan langsung. Misalnya, menggunakan jepitan kertas untuk menutup bungkus kerupuk sisa. Atau membalut ujung kabel charger dengan isolasi agar tidak putus. Hal-hal itu masuk akal karena Anda pernah mengalaminya sendiri. Tidak ada klaim "paling baik", hanya solusi yang cocok untuk situasi tertentu.

Menutup catatan ini, saya ingin mengatakan bahwa keprakatisan sejati bukanlah daftar tips dari internet, melainkan kemampuan menyesuaikan cara dengan keadaan. Saya masih sering lupa menerapkan kebiasaan-kebiasaan di atas. Tapi setiap kali ingat, saya coba lagi. Dari warung kopi Oelamasi sampai meja kerja di rumah, prinsipnya sama: jangan buat hidup lebih rumit dari yang seharusnya.

Referensi: sumber resmi

Tag: #kebiasaan #praktis #gaya hidup #produktivitas #observasi